Artikel

Entrepeneur Yang Tangguh Dalam Mengembangkan Dan Meneruskan Bisnis Keluarga

Tulisan ini diangkat dari pengalaman PT Astra Mitra Ventura (“AMV”) dalam bermitra dengan para Perusahaan Pasangan Usaha (“PPU”)-nya. PPU adalah perusahaan yang memperoleh pembiayaan dari AMV. Dimana lebih dari 50% PPU AMV (skala UKM) merupakan bisnis keluarga yang para pelaku usahanya mempunyai hubungan keluarga yang sangat dekat atau keluarga kandung (suami, isteri dan anak). Dalam kesempatan ini kami mencoba untuk membagi pengalaman yang terjadi pada PPU AMV, terutama mengenai lahirnya “Entreprenuer” yang tangguh dan strategi perusahaan keluarga dalam mengembangkan dan meneruskan bisnis keluarga.

 

 

Dalam terjemahan kata Entreprenuer adalah Wirausaha yang artinya seseorang yang memulai usaha atau menjalankan suatu kegiatan bisnis. Definisi lain tentang Wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, organisasi dan pengawasan.

Seseorang akan memilih profesi sebagai wirausaha didorong atau disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu :


1) Orang tersebut lahir atau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki usaha (sudah ada bisnis keluarga);
2) Orang tersebut berada dalam kondisi tertentu sehingga tidak ada pilihan lain selain menjadi wirausaha;
3) Orang tersebut yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan.


Pengalaman AMV sejak tahun 1991, sudah banyak bermitra dengan perusahaan (PPU) yang wirausahawannya merupakan seorang wirausaha yang terbentuk karena kondisi-kondisi tersebut di atas, yang saat ini telah menjadi wirausahawan / pengusaha yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan bisnisnya dan membuat keputusan tentang lingkungan usaha / bisnisnya, mengelola sejumlah uang atau modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan.

Untuk kondisi nomor 1) diatas, dimana seorang wirausaha pada awalnya memiliki orang tua yang sudah mempunyai usaha dan kemudian orang tua tersebut memberikan contoh maupun membekali anaknya untuk ikut terjun mengurus dan mengelola bisnisnya. Sebagai contoh : orang tua (pemilik awal bisnis keluarga) sudah mengarahkan / membekali dan memberikan contoh kepada anaknya untuk mengelola bisnisnya dan kemudian pada akhirnya usaha orang tua tersebut diturunkan kepada anaknya sehingga anaknya tersebut saat ini sudah menjadi salah satu pimpinan dalam perusahaan tersebut dan siap untuk meneruskan usaha orang tuanya, kondisi demikian cukup banyak terjadi pada PPU AMV.

Untuk kondisi nomor 2) diatas, dimana seorang wirausaha pada awalnya tidak berminat maupun tidak dibekali oleh kedua orang tuanya untuk terjun mengelola usaha keluarga, namun dikarenakan situasi yang memaksa, maka yang bersangkutan harus menjadi wirausaha dan mengelola usaha tersebut (usaha keluarga), sebagai contoh : seorang wirausaha yang awalnya memiliki kedua orang tua yang mempunyai bisnis bak truk / karoseri truk disekitar kota Bandung - Jawa Barat, awalnya wirausahawan tersebut tidak diarahkan / tidak dibekali oleh orang tuanya untuk mengelola usaha keluarga (karena dipercayakan kepada orang lain), namun sepeninggal kedua orang tuanya (ayah dan ibu wafat dalam waktu yang berdekatan), lambat laun usaha keluarga tersebut turun omsetnya bahkan terancam bangkrut akibat salah pengelolaan. Atas dasar tersebut, ditambah hutang warisan usaha yang harus dipikul olehnya, maka yang bersangkutan tergerak dan terpaksa untuk terjun dalam menyelesaikan permasalahan bisnis keluarganya tersebut. Singkatnya dengan keseriusan dan niat baiknya untuk menerima semua arahan / bantuan manajemen serta kerja keras, akhirnya dalam waktu yang tidak terlalu lama semua permasalahan yang menimpa usaha / bisnis keluarganya dapat diselesaikan.


Untuk kondisi nomor 3) diatas, dimana seorang wirausaha sejak awal mempunyai minat dari dalam dirinya sendiri (ditambah pembekalan / arahan dari orang tua selaku pemilik bisnis keluarga) untuk menjadi seorang wirausaha yang meneruskan bisnis keluarga, sebagai contoh : seorang wirausaha yang sudah sejak dibangku pendidikan kuliah di suatu perguruan tinggi dengan jurusan yang relevan untuk diterapkan pada bisnis keluarganya dan banyak mempelajari keilmuan yang berkaitan dengan bisnis keluarganya. Sehingga pada saat masa seorang wirausaha tersebut cukup untuk memulai atau terlibat dalam bisnis keluarga, maka yang bersangkutan sudah memahami bisnis keluarga secara riil.

Dari kondisi-kondisi tersebut diatas, terlihat bahwa keberadaan atau kelangsungan bisnis keluarga sangat tergantung dari jenis, besaran usaha, maksud dan tujuan bisnisnya ataupun hal lain seperti intelektual, personality dari masing-masing pelaku bisnis atau para wirausaha dari masing-masing personel keluarga dalam mengembangkan dan meneruskan bisnis keluarga.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dan diterapkan agar bisnis keluarga tetap berjalan terus menerus, adalah sebagai berikut :
1. Etika kerja antara keluarga harus disepakati (aturan keluarga, kultur budaya);
2. Penerapan aturan sesuai anggaran dasar perusahaan (mengenai hak dan kewajiban serta tugas wewenang masing-masing sesuai jabatan);
3. Pemilihan bidang bisnis yang sehat dan praktek bisnis yang bersaing sehat;
4.Membangun dan mengembangkan kompetensi wirausaha yang terlibat dalam bisnis keluarga disesuaikan dengan job / pekerjaannya;
5. Transparansi informasi dan komunikasi antara wirausaha yang terlibat dalam bisnis keluarga;
6. Terciptanya hubungan industrial yang kondusif dan kekeluargaan.

Selain dari hal yang telah disampaikan, pengembangan dengan tujuan penciptaan wirausaha yang tangguh (baik wirausaha baru maupun yang berawal dari wirausaha yang sudah ada) haruslah memiliki strategi, diagnosis permasalahan serta kajian dan pertimbangan yang matang dan mendalam agar memberikan hasil yang optimal dan tidak menjadi sia-sia.